Kisah Shara Merva
Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis bernama Shara Merva yang berusia 12 tahun. Saat itu, ia duduk di bangku kelas 7 SMP. Sejak kecil, ia hidup di suatu kota besar bernama Mertuz bersama ibu dan ayahnya. Shara adalah gadis yang cantik jelita, baik hati, ramah kepada siapapun, dan sangat berbakti kepada orang tua nya. Sejak SD, ia sudah memiliki banyak sekali teman. Yang paling dekat dengan nya yaitu Melia dan Julia. Selain ramah berteman, Shara juga merupakan anak yang sangat pintar dalam mata pelajaran seni musik maupun seni rupa. Hal yang paling ia sukai yaitu melukis sambil mendengarkan musik di halaman belakang rumahnya. Selain melukis, ia juga suka bermain piano. Cita-cita Shara yaitu kelak nanti, ia dapat menjadi seorang seniman, pianis, dan musisi.
Suatu ketika saat ingin berangkat sekolah, Shara bertanya kepada ibunya "Bu, menurut ibu apakah cita-cita Shara dapat tercapai seperti yang Shara inginkan?" Ibunya pun berkata "Nak, ibu yakin kelak nanti kamu akan menjadi wanita yang sukses dan bahagia. Asalkan dari sekarang kamu harus berusaha sebaik mungkin untuk mencapai cita-cita mu. Dan kamu juga harus giat belajar. Ibu dan ayah akan selalu menyemangati mu." Dari perkataan Ibunya, Shara pun langsung bergegas masuk mobil dengan semangatnya menuntut ilmu ke sekolah.
Sampainya di sekolah, ia bertemu Melia dan Julia. Ia pun memberi tau ke mereka bahwa sekarang ia ingin lebih giat belajar dan mengurangi waktu bermain nya bersama mereka. Melia dan Julia pun tidak keberatan, bahkan mereka ingin ikut juga seperti Shara. Sepulang sekolah, mereka merencanakan untuk pergi ke rumah Shara dan belajar bersama untuk esok hari nya ujian. Di waktu istirahatnya, mereka melukis dan mendengarkan musik bersama. Betapa bahagia nya mereka bersama.
Seiring berjalannya waktu, terdapat sebuah lomba piano yang ditawarkan setiap sekolah. Shara pun sangat tertarik dengan lomba ini. Tanpa berpikir panjang, ia mendaftarkan dirinya untuk mengikuti lomba tersebut. Ia pun sangat takut karena ia akan bersaing bersama sekolah lain. Tetapi, orang tua dan temannya ada di sampingnya menyemangati Shara.
Tiap hari sepulang sekolah, Shara rutin berlatih piano sendiri tanpa bimbingan guru les. Ia mencari lagu yang cocok dari berbagai internet. Karena lomba piano ini, nilai-nilai pelajaran Shara di sekolah pun makin menurun. Ia terlalu fokus pada perlombaan itu sehingga lupa untuk belajar. Saat mendengar hal itu, orang tua nya langsung menasihati Shara dengan baik. "Shar, kami tau kamu mau menjadi musisi yang sukses dan perlombaan ini juga pasti akan berharga bagimu di masa depan. Tetapi, kami memiliki syarat untukmu. Ujian semester dan bagi rapot tinggal 2 minggu lagi, dan perlombaan tersebut dilaksanakan satu minggu setelahnya. Jika nilai kamu dibawah rata-rata, maka kamu tidak boleh ikut lomba. Namun, sebaliknya jika nilai kamu bagus di atas rata-rata, maka kamu dapat mengikuti lomba." itulah nasihat dan syarat yang diberikan orang tua Shara kepadanya. Ia pun setuju dengan syarat itu.
Shara pun langsung naik ke kamarnya dan melainkan putus asa, rasa semangat dalam diri Shara makin meningkat. Karena kemauan nya dalam mengikuti lomba tersebut dan ingin mencapai nilai yang terbaik, ia pun pantang menyerah dan segera membuat jadwal belajar keseharian nya. Mulai dari situ lah Shara belajar untuk membagi waktu dengan disiplin. Mengingat kata ibunya waktu itu, Shara yakin bahwa ia bisa asalkan ia harus berusaha dan belajar dengan giat.
Jadwal Shara yaitu setiap pulang sekolah jam 1, ia akan belajar hingga jam 6 sore (tentunya ada istirahat 15 menit) sedangkan jam 6 sampai jam 8 ia istirahat dan bersiap tidur. Namun, pada hari Sabtu dan Minggu ia akan berlatih piano nya dan juga bermain sebentar bersama Melia dan Julia. 2 minggu ia habiskan waktu nya sesuai dengan jadwal tersebut. Sekalinya ia ingin menyerah, orang tua dan teman nya selalu ada untuk menyemangatinya tanpa bosan. Shara juga pasti menyemangati mereka balik.
Minggu ujian pun datang. Shara tidak lupa untuk mengulang pelajaran yang telah ia pelajari seminggu sebelumnya. Ia mengingat semua materi dengan baik supaya mendapatkan nilai yang bagus. Saat memulai ujian, tidak lupa ia berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ia pun mengerjakan soal dengan tenang, lancar, dan fokus.
Beberapa hari kemudian, ujian selesai dan waktu nya untuk pembagian rapot. Shara selalu berdoa supaya nilai nya bagus sehingga dapat mengikuti lomba piano tersebut. Saat pulang dari pembagian rapot, orang tua Shara memberi kabar bahwa nilai Shara sangat bagus dan berada di atas rata-rata!! Shara sangat bahagia dan bersyukur tanpa rasa sombong. Ia pun memeluk orang tua nya dan ber terima kasih kepada mereka yang sudah menyemangatinya hingga tahap ini. Ia juga melakukan hal ini kepada Melia dan Julia, teman sejatinya.
Hari perlombaan akan dilaksanakan sore hari itu. Shara sudah menunggu lama untuk momen ini datang. Ia sudah berlatih keras supaya dapat memberikan pertunjukan yang baik. Sampainya di tempat perlombaan, ia melihat banyak sekali peserta yang mungkin jauh lebih baik darinya. Ia pun sempat merasa tidak percaya diri. Tetapi, ia yakin bahwa ia bisa menampilkan yang terbaik. Giliran Shara pun datang, ia selalu berdoa dalam hati dan mengingat lagu yang sudah ia pelajari. Ia pun memainkan piano tersebut dengan indah di sebuah teater penuh dengan penonton. Ia memainkan nya dengan relax. Ia pun merefleksikan seluruh badan nya setelah menjalankan minggu yang berat dan sulit baginya. Semua penonton pun menyaksikan nya dengan rasa kagum dan mempesona. Akhirnya Shara pun sampai di ujung lagu. Para penonton langsung memberikan tepuk tangan yang meriah. Tanpa menyangka, ternyata Shara memenangkan juara 1 dalam perlombaan ini!! Ibu, ayah, Melia, dan Julia pun turut senang kepada Shara. Shara pun juga sangat bahagia bahwa perjuangan nya tidak sia-sia.
Beberapa tahun kemudian, Shara sudah memenangkan banyak sekali perlombaan piano, melukis, bernyanyi, dan lain-lain. Ia pun mendapat beasiswa untuk memasuki universitas musik paling bagus dan terkenal di kota Mertuz. Cita-cita nya pun tercapai. Ia tidak akan lupa perkataan ibu yang ia jadikan motto dalam hidupnya. "Aku pasti bisa, asalkan aku tidak menyerah, selalu berusaha, dan giat belajar."
Comments
Post a Comment